JENDERAL
SOEDIRMAN
BAB
I
PENDAHULUAN
Jenderal Soedirman adalah salah satu
tokoh besar di antara sedikit orang yang pernah dilahirkan suatu revolusi.
Meskipun menderita penyakit paru- paru yang sangat parah, namun semangatnya
tidak ada tandingannya. Soedirman
merupakan salah satu pembela tanah air. Ia juga salah satu pejuang dan
pemimpin teladan bagi bangsa Indonesia. Pribadinya teguh pada prinsip dan
keyakinan serta selalu mengedepankan kepentingan masyarakat.
Ia pernah menjadi seorang guru di HIS
Muhammadiyah di cilacap dan juga giat di kepanduan Hizbul Wathan. Soedirman masuk di tentara pembela tanah air
( PETA ) di Bogor. Sesudah Tentara
Keamanan Rakyat ( TKR ) dibentuk , ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi
V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Ia terpilih menjadi Panglima Angkatan
Perang Republik Indonesia saat berumur
31 tahun.
Ia merupakan pahlawan pembela
kemerdekaan yang tidak peduli akan keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan
kemerdekaan Indonesia. Ia selalu konsisten dalam membela kepentingan tanah
air, bangsa dan Negara. Soedirman adalah
seorang tokoh yang bijaksana, disiplin dan bertanggung jawab sekaligus
pemberani.
BAB
II
ISI
l
Jenderal Besar Soedirman ahir di Bodas, Karangjati,
Rembang, Purbalingga pada tanggal 24
Januari 1916. Soedirman dibesarkan dalam lingkungan keluarga sederhana. Ayahnya Karsid Kartowirodji,
adalah seorang pekerja pabrik gula di Kalibagor, Banyumas dan Ibunya Siyem,
adalah keturunan wedana Rembang.
Sejak berumur 8 bulan, Soedriman
diangkat sebagai anak oleh R.
Tjokrosoenaryo, seorang asisten wedana Rembang yang masih merupakan saudara
dari ibunya. Soedirman sangat senang mengaji. Ketika masih kanak– kanak,
selepas Mahgrib, bersama–sama dengan temannya membawa obor pergi ke surau untuk
mengaji .
Soedirman dikenal sebagi “guru kecil“ di sekolahnya. Hal ini di
sebabkan oleh ketekunan dan kediplisinan. Saat berusia 7 tahun Soedirman bersekolah di HIS Gubernemen. Namun
ketika naik ke kelas VII, beliau pindah Ke Taman Siswa, sebuah sekolah yang
terkenal berjiwa nasional yang tinggi.
Belum genap satu tahun, sekolah Taman
Siswa ditutup karena kekurangan dana. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di
MULO Wiworotomo , Cilacap. Sejak menjadi siswa MULO Wiworotomo, telah terlihat
tanda-tanda pada diri Soedirman bahwa beliau adalah remaja yang bertanggung
jawab. Ia aktif dalam organisasi Ikatan Pelajar Wiworotomo dan di dalam dunia
Kepanduan.
Pada awalnya beliau memasuki
kepanduan Bangsa Indonesia yang ada di Cilacap. Kemudian beliau beralih ke
pandu Hizbul Wathan. Setelah lulus MULO beliau sempat menjadi siswa di HIS
Muhammadiyah Surakarta namun hanya kurang dari 1 tahun.
Soedirman adalah pemimpin sekaligus
pendidik bagi para pemuda di desanya. Ia juga sekaligus pendidik di Hizbul
Wathan. Soedirman bersekolah di lembaga pendidikan yang di anggap liar oleh
Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tahun 1934.
Di lembaga pendidikan ini, ada tiga
orang guru yang sangat mempengaruhi pembentukan karakter seorang Soedirman,
yakni Raden Sumoyo , Raden Moharnad Kholil dan Tirto Supono. Yang pertama
memiliki pandangan nasionalis sekuler, yang kedua nasionalis–Islamis, sedangkan
yang ketiga merupakan lulusan dari
akademi Militer Breda di Belanda.
Kendati berbeda-beda pandangan, namun ketiga guru Soedirman tersebut sama-sama
mengambil sikap non kooperatif terhadap pemerintahan Kolonial Belanda. Dari
ketiganya, karakter Soedirman terbentuk
Islamis, nasionalime dan militansi militer. Bahkan dalam soal agama,
Soedirman dianggap agak fanatik. Hal ini menyebabkan ia sering dipanggil “
Kaji” (Si haji) oleh kawan–kawannya.
Pendidikan militer diawalinya dengan
mengikuti pendidikan Tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai
pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya.
Setelah Indonesia merdeka, dalam
suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan
Jepang di Banyumas. Itulah jasanya sebagai tentara pasca Kemerdekaan Indonesia.
Sesudah Tentara Keamanan Rakyat terbentuk, ia diangkat menjadi Panglima Divisi
V/Banyumas dengan Pangkat kolonel. Melalui konferensi TKR pada tanggal 2 November 1945, pangkat Jenderal diberikan
padanya lewat pelantikan Presiden.
Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan
untuk melucuti tentara Jepang, ternyata Belanda
ikut membonceng. Karenanya TKR terlibat pertempuran dengan Tentara
Sekutu. Pada Desember 1945, TKR yang
dipimpin oleh Soedirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di
Ambarawa. Pada tanggal 12 Desember 1945 dilancarkanlah serangan serentak
terhadap semua pasukan Inggris. Pertempuran yang berkorbar selama lima hari itu
akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.
Pada saat agresi militer II Belanda
di Yogyakarta, Jenderal Soedirman sedang sakit karena hanya satu paru –parunya
yang masih berfungsi. Pada tanggal 19 Desember 1948, Soedirman memulai perang
gerilya melawan agersi militer Belanda yang ingin menguasai Indonesia kenmbali.
Jenderal Soedirman menolak tunduk terhadap penjajah namun memilih melawan tanpa
kenal menyerah. Melalui perjanjian Roem Royen
pada tanggal 7 Mei 1949, Indonesia mengakhiri permusuhan.
Kesehatan Jenderal Soedirman
diperiksa kembali. Tenyata paru–paru Soedirman yang tinggal sebelah sudah
terserang penyakit. Pada tanggal 29 Januari 1950, beliau wafat dan dimakamkan
di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta. Beliau dinobatkan sebagai
pahlawan pada tahun 1997 dan mendapat gelar anumerta dengan bintang lima.
BAB
III
ULASAN
Jenderal Soedirman telah memberikan
inspirasi dan contoh. Beliau pernah berpesan:“ rakyat tidak boleh menderita,
biarlah kami para pemimpin saja yang menderita“. Kita harus meneladani seorang Panglima Besar Jederal
Sodirman yang tidak pantang menyerah.
Walaupun hanya satu paru–paru yang bisa
digunakan, ia tetap saja membela tanah air.
Kita harus mencontohnya agar kita
bisa disiplin, pemberani dan bertanggung jawab. Kunci keberhasilan kepemimpinan
Jenderal Soedirman adalah kemampuannya untuk memberikan contoh keteladanan.
Soedirman yang lemah dan sakit-sakitan mampu memberikan semangat, motivasi dan
kesadaran akan arti pentingnya kemerdekaan bagi pasukannya. Beliau bersedia
bersusah payah, menderita bersama-sama
dalam sebuah perjuangan di antara kebersamaan. Itulah pengaruh besar
dari seorang Jenderal Soedirman.

Sip lengkap
BalasHapusHero from purbalingga 👮👮🖒
BalasHapusizin coopy
BalasHapus