Rabu, 10 Oktober 2012

Jenderal Soedirman


JENDERAL SOEDIRMAN

BAB I
PENDAHULUAN
                   
           Jenderal Soedirman adalah salah satu tokoh besar di antara sedikit orang yang pernah dilahirkan suatu revolusi. Meskipun menderita penyakit paru- paru yang sangat parah, namun semangatnya tidak ada tandingannya. Soedirman  merupakan salah satu pembela tanah air. Ia juga salah satu pejuang dan pemimpin teladan bagi bangsa Indonesia. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan serta selalu mengedepankan kepentingan masyarakat.
           Ia pernah menjadi seorang guru di HIS Muhammadiyah di cilacap dan juga giat di kepanduan Hizbul Wathan.  Soedirman masuk di tentara pembela tanah air ( PETA ) di  Bogor. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat ( TKR ) dibentuk , ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Ia terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang  Republik Indonesia saat berumur 31 tahun.
           Ia merupakan pahlawan pembela kemerdekaan yang tidak peduli akan keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia selalu konsisten dalam membela kepentingan tanah air,  bangsa dan Negara. Soedirman adalah seorang tokoh yang bijaksana, disiplin dan bertanggung jawab sekaligus pemberani.

BAB II
ISI
                    l
           Jenderal  Besar Soedirman ahir di Bodas, Karangjati, Rembang, Purbalingga pada tanggal 24  Januari 1916. Soedirman dibesarkan dalam lingkungan keluarga  sederhana. Ayahnya Karsid Kartowirodji, adalah seorang pekerja pabrik gula di Kalibagor, Banyumas dan Ibunya Siyem, adalah keturunan wedana Rembang.
           Sejak berumur 8 bulan, Soedriman diangkat sebagai anak  oleh R. Tjokrosoenaryo, seorang asisten wedana Rembang yang masih merupakan saudara dari ibunya. Soedirman sangat senang mengaji. Ketika masih kanak– kanak, selepas Mahgrib, bersama–sama dengan temannya membawa obor pergi ke surau untuk mengaji .
           Soedirman dikenal  sebagi “guru kecil“ di sekolahnya. Hal ini di sebabkan oleh ketekunan dan kediplisinan. Saat berusia 7 tahun  Soedirman bersekolah di HIS Gubernemen. Namun ketika naik ke kelas VII, beliau pindah Ke Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi.
           Belum genap satu tahun, sekolah Taman Siswa ditutup karena kekurangan dana. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di MULO Wiworotomo , Cilacap. Sejak menjadi siswa MULO Wiworotomo, telah terlihat tanda-tanda pada diri Soedirman bahwa beliau adalah remaja yang bertanggung jawab. Ia aktif dalam organisasi Ikatan Pelajar Wiworotomo dan di dalam dunia Kepanduan.
           Pada awalnya beliau memasuki kepanduan Bangsa Indonesia yang ada di Cilacap. Kemudian beliau beralih ke pandu Hizbul Wathan. Setelah lulus MULO beliau sempat menjadi siswa di HIS Muhammadiyah Surakarta namun hanya kurang dari 1 tahun.
           Soedirman adalah pemimpin sekaligus pendidik bagi para pemuda di desanya. Ia juga sekaligus pendidik di Hizbul Wathan. Soedirman bersekolah di lembaga pendidikan yang di anggap liar oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tahun 1934.
           Di lembaga pendidikan ini, ada tiga orang guru yang sangat mempengaruhi pembentukan karakter seorang Soedirman, yakni Raden Sumoyo , Raden Moharnad Kholil dan Tirto Supono. Yang pertama memiliki pandangan nasionalis sekuler, yang kedua nasionalis–Islamis, sedangkan yang ketiga  merupakan lulusan dari akademi Militer  Breda di Belanda. Kendati berbeda-beda pandangan, namun ketiga guru Soedirman tersebut sama-sama mengambil sikap non kooperatif terhadap pemerintahan Kolonial Belanda. Dari ketiganya, karakter Soedirman terbentuk  Islamis, nasionalime dan militansi militer. Bahkan dalam soal agama, Soedirman dianggap agak fanatik. Hal ini menyebabkan ia sering dipanggil “ Kaji” (Si haji) oleh kawan–kawannya.
           Pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan Tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya.      
           Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasanya sebagai tentara pasca Kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat terbentuk, ia diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan Pangkat kolonel. Melalui konferensi TKR pada tanggal  2 November 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden.
           Ketika pasukan  sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata Belanda  ikut membonceng. Karenanya TKR terlibat pertempuran dengan Tentara Sekutu. Pada Desember 1945, TKR  yang dipimpin oleh Soedirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Pada tanggal 12 Desember 1945 dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua pasukan Inggris. Pertempuran yang berkorbar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.
           Pada saat agresi militer II Belanda di Yogyakarta, Jenderal Soedirman sedang sakit karena hanya satu paru –parunya yang masih berfungsi. Pada tanggal 19 Desember 1948, Soedirman memulai perang gerilya melawan agersi militer Belanda yang ingin menguasai Indonesia kenmbali. Jenderal Soedirman menolak tunduk terhadap penjajah namun memilih melawan tanpa kenal menyerah. Melalui perjanjian Roem Royen  pada tanggal 7 Mei 1949, Indonesia mengakhiri permusuhan.
           Kesehatan Jenderal Soedirman diperiksa kembali. Tenyata paru–paru Soedirman yang tinggal sebelah sudah terserang penyakit. Pada tanggal 29 Januari 1950, beliau wafat dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta. Beliau dinobatkan sebagai pahlawan pada tahun 1997 dan mendapat gelar anumerta dengan bintang lima.               
                                              
BAB III
ULASAN

           Jenderal Soedirman telah memberikan inspirasi dan contoh. Beliau pernah berpesan:“ rakyat tidak boleh menderita, biarlah kami para pemimpin saja yang menderita“.         Kita harus meneladani seorang Panglima Besar Jederal Sodirman yang  tidak pantang menyerah. Walaupun hanya satu paru–paru  yang bisa digunakan, ia tetap saja membela tanah air.
           Kita harus mencontohnya agar kita bisa disiplin, pemberani dan bertanggung jawab. Kunci keberhasilan kepemimpinan Jenderal Soedirman adalah kemampuannya untuk memberikan contoh keteladanan. Soedirman yang lemah dan sakit-sakitan mampu memberikan semangat, motivasi dan kesadaran akan arti pentingnya kemerdekaan bagi pasukannya. Beliau bersedia bersusah payah, menderita bersama-sama  dalam sebuah perjuangan di antara kebersamaan. Itulah pengaruh besar dari seorang Jenderal Soedirman.



3 komentar: